https://www.istockphoto.com/id/vektor/gadis-penyair-membacakan-puisi-untuk-pendengar-karakter-wanita-kreatif-yang-gm1458713022-493235675?searchscope=image%2Cfilm
Suara
Hati
Tetapi, namamu
hilang dari ingatanku
Aku coba cari
tahu tentangmu
Tak satu pun
yang memberiku bayangan
Engkau bagaikan alarm pagi yang membangunkanku dai tidur lelapku
Engkau bagaikan
hujan yang datang tanpa diundang
Engkau bagaikan
lirik lagu membuatku tergoda
Aku melukis
wajahmu
Tidak dengan
namamu
Aku mencintaimu
bukan karena rupamu
Melainkan
sifatmu
IX A
Cinta
yang Luka
Yang
telah menjadi kenangan terindahku
Kaulah
panutanku, kaulah tempat ternyaman
Untuk
bersandar
Kekasih,
kamu sangat berharga
Engkau
membuatku membuka hati menerimamu
Namun,
aku berpikir cinta membuatku terluka
IX A
Melukis
Dirimu
Agar
aku bisa mencintaimu
Biarkan
aku mencintaimu dengan hatiku
Merasa
bahwa kamu terindah dalam hidupku
Melukis
dirimu adalah hal berharga
Aku
melukismu dengan sepenuh hati
Agar
semu tahu aku mencintaimu
Semoga
engkau selalu ada jika aku membutuhkanmu
IX
A
Terdengar
langkah kaki berjalan
Memperlihatkan
semangat yang membara
Dia
tidak ingat saat dia datang
Kedua
lengan yang kokoh memegang senapan
Berjalan
ke depan
Dengan
langkah tegak dan dada menengadah
Tidak
menunduk meskipun sebentar
Tidak
mengeluh walau terjatuh
Maju
Kiat
harus berjalan terus
Kita
adalah pemilik sah NKRI
Sekali
Merdeka
Tetap
Merdeka
IX A
Penyesalan
Pintu-pintu tertutup rapat
Daun jendela tak
terbuka sedikit pun
Di atas meja
dekat kursi
Catatan harian
masih terbuka
Di sudut kamar
yang sempit
Seorang gadis
bermata sembab
Menundukkan
kepalanya
Ia sedang
merenung
Di luar sana
terdengar suara
Angin mendesau
dalam gelap
Seakan ikut
merasakan oleh gadis itu
Febiola
R. M. Wijaya
IX
A
Editor: M. Hamse
