Dari Hati yang Mengabdi, Menuju Misi yang Baru

 Istimewa 

"Tuhan mempertemukan kita dalam kasih, dan kini Ia mengutus kita ke jalan yang baru, masing-masing dengan misi-Nya."

Tahun 2010–2025. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat. Waktu itu mereka datang dengan hati tulus untuk mengabdi. Bekerja dengan upah seadanya, mereka tetap berdiri teguh. Tak ada keluh kesah, apalagi niat untuk mundur. Jiwa besar sebagai pendidik benar-benar mengalir dalam nadi mereka.

Dalam segala keterbatasan, mereka tetap bersiaga. Mereka mengajar meski latar belakang pendidikannya bukan keguruan. Tapi, seperti pepatah mengatakan: “Tak ada rotan, akar pun jadi.” Mereka mengajar lebih dari satu mata pelajaran dengan semangat yang tak pernah padam.

Sekitar pertengahan 2013, sekolah mulai menerima tenaga pendidik dengan gelar kependidikan. Perlahan, mereka yang lebih dulu mengabdi, diberikan tugas baru ada yang menjadi tenaga administrasi (TU), ada pula yang dipercaya sebagai kepala perpustakaan. Sekolah sangat menghargai pengabdian mereka. Mereka bukan sekadar staf atau guru. Mereka adalah keluarga. Dan keluarga, selalu tinggal dalam ingatan dan hati.

Bagaimanapun juga, mereka adalah bagian dari sejarah panjang dan perkembangan sekolah hingga hari ini. Merekalah guru perintis mereka yang membimbing banyak anak menjadi sarjana. Didikan mereka, meski dalam segala keterbatasan, sungguh membekas. Mereka adalah pahlawan sejati!

Hari ini, kami melepas dua guru luar biasa: Yohanes S. Bosco, SE. dan Vinsensius Jaman, A.Md., yang secara resmi pindah tugas ke ibu kota kabupaten.

Tak hanya mereka. Kami juga memberi penghormatan kepada satu sosok penting di balik layar. Ia tidak mengajar, tapi kehadirannya sangat menentukan kemajuan sekolah. Pendiam, gesit, dan profesional itulah Paulus F. Dikson, A.Md., yang sejak 2012 hingga 2025 telah mendedikasikan dirinya mengelola Dapodik. Ia adalah sosok yang sangat diandalkan dalam bidangnya.

Dan satu lagi yang tak kalah membekas guru muda, berbakat, dan serba bisa. Sejak 2022 ia hadir di tengah kami. Tiga tahun memang singkat, tetapi pengaruhnya terasa kuat. Lihai sebagai pelatih koor dan guru matematika, juga mengajar SBK. Ia adalah sosok yang kami banggakan, dan tentu, akan kami rindukan.

Hari ini, 14 Juni 2025, dengan derai air mata dan hati penuh syukur, kami melepas empat pahlawan pendidikan. Tuhan mengutus mereka ke tempat baru. Tapi kami tahu, mereka akan terus berkarya untuk bangsa, untuk anak-anak, untuk bumi Indonesia.

Terima kasih. Semoga langkah kalian selalu diberkati. Kalian akan selalu menjadi bagian dari sejarah dan keluarga besar kami.



Writer|| Marianus Hamse 
Redaksi|| Stanislaus Bandut